Wartawan Asal Parepare Meninggal saat Menuju Finis Lomba Marathon Internasional

Penyelenggaraan Marathon International Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra yang berakhir hari ini, 5 November, menyisakan duka. Sebab, salah satu peserta bernama Andi Nursaiful, 58, warga asal Kota Parepare, Sulawesi Selatan, (kini tinggal di Jakarta) tewas saat berlari menuju finis. Pelari yang juga seorang wartawan Obsesi Media Group tersebut mengalami henti jantung (cardiac death) hingga meninggal dunia pada kilometer 18 Ranu Pani, Lumajang.

Untuk diketahui, BTS Ultra diselenggarakan pada 3–5 November. Panitia mencatat ada 1.116 peserta dari 34 negara untuk kategori lari 70 km dan 100 km itu. Andi merupakan salah satu peserta kategori 70 km. Dia bersaing melawan 372 peserta lain. Start dari Cemorolawang Probolinggo pada Sabtu pagi (4/11) pukul 01.00, Andi lumayan cepat larinya. Pria kelahiran 27 September 1969 tersebut melewati kilometer 17 saat matahari sudah bersinar.

Florenciano Hendricus Mutter, operasional panitia BTS Ultra, menyatakan, Andi sejatinya sudah melengkapi persyaratan mengikuti lomba. Tidak hanya itu, Andi juga dinyatakan sebagai pelari profesional karena telah mengikuti sejumlah perlombaan lari. ”Kami start pukul 01.00, tidak ada masalah waktu itu,” ujarnya.

Florenciano melanjutkan, Andi saat itu berlari dengan sejumlah peserta lain. Nah, sekitar pukul 05.30, tepatnya di kilometer 18 area Ranu Pani, Lumajang, Andi diduga sesak napas. Andi kemudian duduk, lalu dia pingsan. ”Sejumlah peserta lain lalu meminta pertolongan warga dan tim medis,” sambungnya. Kebetulan, tim medis berada di kilometer 21, tidak jauh dari lokasi kejadian.

Yotin Bayu Meriani, salah satu tim Medis BTS Ultra, menyampaikan, Andi dinyatakan kolaps di daerah Ranu Pani kilometer 18. Dokter yang saat itu berada di pos medis kilometer 21 mendapat laporan dari salah satu peserta jika Andi tidak bisa melanjutkan lomba. ”Kami langsung bergerak dengan ambulans menuju lokasi yang jaraknya hanya 3 kilometer,” terangnya.

Yotin menegaskan, sesampainya di lokasi, Andi sudah dinyatakan meninggal dunia. ”Kami lakukan pemeriksaan di sana. Pasien diduga mengalami henti jantung yang mendadak,” jelasnya. Lebih lanjut dia menyatakan, pasien diduga lebih dulu merasakan nyeri di dada sebelum kolaps dan terjatuh.

Biasanya, Yotin menjelaskan, henti jantung disebabkan sumbatan kolesterol maupun gula darah. Identifikasi henti jantung yang ditemukan, Yotin menyatakan, karena ada tanda-tanda kematian saat pemeriksaan awal. Sementara luka lebam di tubuh pasien tersebut disebabkan karena terjatuh di jalan berbatu atau makadam.

Yang jelas, pasien meninggal bukan karena terjatuh terlebih dahulu dan bukan juga karena sesak napas. Sebab, pasien sudah dinyatakan pelari berbagai lomba selama delapan tahun lalu. Meninggalnya Andi, Yotin melanjutkan, sekitar 15 menit sebelum dilakukan penanganan atau 10 menit setelah peserta lain melaporkan peristiwa itu pada tim medis. Andi kemudian langsung dibawa menuju Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

Sang istri, Tutut Nursaiful, yang tiba di sana sekitar pukul 13.00 WIB pun hanya bisa meratapi kematian suaminya. Menurut dia, suaminya baru kali ini mengikuti lomba lari BTS Ultra. Namun, untuk urusan mendaki gunung, Andi yang berprofesi sebagai wartawan tersebut sudah puluhan kali mendaki gunung. ”Mas Andi sering ikut lomba lari seperti ini. Tapi, kalau event seperti itu ya baru kali ini,” ucapnya sedih.

Biasanya, Tutut menemani suaminya saat mengikuti lomba lari. Jika jaraknya dekat, dia juga ikut turun ke jalan. Jika jaraknya jauh, dia hanya mengantar suaminya ke daerah yang dituju. ”Saya biasanya ikut. Saya terus semangati suami,” ucapnya. Hanya, kali ini dia hanya mengantarkan suaminya menuju bandara. ”Jumat subuh, 3 November, saya antarkan suami ke bandara. Tidak ada keluhan apa-apa. Makanya saya kaget saat dihubungi tadi (kemarin),” kata Tutut yang tinggal di Jakarta itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *